Kajian: Balikpapan dua-puluh tahun kedepan
Oleh: Ir. Suta Vijaya.
Intisari
Kalimantan Timur kaya akan sumber migas. Jumlah cadang minyak (terbukti dan potensial) kira-kira 13% dan cadangan gas kira 28% dari cadangan nasional, Sedangkan cadangan batubara kira 34% dari cadangan nasional. Disisi lain, saat ini Indonesia sudah tidak lagi tergolong negara pengekspor minyak, tapi sudah menjadi pengimport minyak (net importer country) sejak tahun 2004. Bagaimana peran kota Balikpapan pada masa datang? Memang pendapatan kota Balikpapan tidak secara langsung diperoleh dari sektor migas, namun sebagian besar pusat kegiatan industri migas berada di Balilkpapan. Untuk memahami dua pertanyaan diatas, marilah kita mulai dengan mempelajari kondisi neraca minyak dan gas nasional saat ini, potensi cadangan migas Kalimantan Timur, dan menafsirkan peran Balikpapan dalam industri migas.
Ketersediaan Migas nasional.
Pada tahun 1999, Indonesia meduduki peringkat ke tujuhbelas dunia sebagai negara pengekspor minyak atau kira-kira 2,0 persen dari produksi minyak dunia. Cadangan total minyak nasional kira-kira 9,8 milyar barrel (termasuk 5,3 milyar barel cadangan terbukti). Sejak tahun 1997, produksi Indonesia sebesar 1,58 juta barel perhari, terus menurun menjadai 1,56 juta barel perhari pada tahun 1998, menjadi 1,50 juta barel perhari pada tahun 1999, menjadi 1,3 juta barel perhari pada tahun 2002. Angka penurunan berlanjut terus menjadi 1,146 juta barel perhari pada tahun 2003. Kemudian tahun 2004, kemampuan produksi minyak Indonesia turun lagi menjadi kurang dari satu juta barrel perhari (Lihat Gambar 1).
Dunia industri minyak juga berhadapan dengan situasi paradoks. Pada saat cadangan yang ada terus berkurang, makin sulit menemukan sumber minyak baru, resiko finansial dan teknis semakin tinggi, harga minyak dunia berfluktuasi, pada saat yang sama Industri minyak harus juga menghasilkan profit. Sementara itu kondisi investasi dan kepastian hukum belum sepenuhnya menunjang industri migas untuk tumbuh dengan sehat agar terus melakukan eksplorasi dan pengembangan lapangan minyak baru. Bila penurunan produksi minyak ini terus berlanjut, maka Indonesia yang sekarang sudah menjadi “net importer country”, akan terus menjadi ”net importer country” dimasa-masa akan datang bila tidak ada penemuan-penemuan baru. Situasi ketersediaan energy minyak dimasa akan datang tentu sangat mempengaruhi kondisi ekonomi nasional maupun daerah, terutama di Kalimantan Timur yang banyak mengandalkan pendapatan dari sektor migas. Langkah strategis jangka panjang untuk menjamin ketersediaan energi perlu mendapatkan perhatian serius. Beberapa sumber energi yang tersedia dikawasan Kalimantan Timur yang belum dimanfaatkan secara optimal adalah gas bumi, batu bara, tenaga air, dan tenaga surya. Kalimantan Timur memiliki cadangan batubara sekitar 13,128 Miliar Metrik Ton atau 34% dari cadangan batubara nasional (Lihat Tabel 2).
Indonesia memiliki cadangan gas alam terbukti (proven natural gas reserve) sebesar 92.5 triliun stadar kaki kubik, dan cadangan potensial sebesar 68.5 triliun stadar kaki kubik. Dengan demikian cadangan total adalah 158.3 triliun kaki kubik (Lihat Tabel 3) atau setara dengan 27.0 miliar barel minyak. Ini berarti cadangan gas Indonesia setara dengan tiga kali cadangan minyak nasional yang mampu memasok kebutuhan energi Indonesia sampai dengan 50 tahun dengan asumsi tingkat kebutuhan energi seperti sekarang ini.
cadangan MIGAS kALIMANTAN TIMUR
Pada tahun 2002, Kalimantan Timur memiliki cadangan (cadangan terbukti dan potensial) minyak sekitar 1,3 miliyar barel atau 13% dari cadangan minyak nasional yang besarnya 9,7 milyar barel, and memiliki cadangan gas total sebesar 47.8 TCF (Trillion Cubic Feet - triliun stadar kaki kubik) atau setara dengan delapan miliyar barel minyak, atau hampir setara dengan cadangan minyak nasional. Cadangan gas Kalimantan timur yang besarnya sekeitar 28 % dari cadangan nasional mempunyai arti penting dalam perekomomian nasional dan daerah dimasa datang.
Pada tahun 2004, Kalimantan Timur memperolah dana perimbangan paling besar dari empat-belas daerah penghasil migas lainnya yaitu sebesar Rp. 3,101 triliun (Lihat Gambar 2).
Peran Balikpapan dalam Industri migas
Potensi migas: Sekarang, Indonesia sudah tergolong sebagai negara pengimpor minyak (net importer country). Namun demikian, Balikpapan akan tetap memainkan peran penting dalam industri migas, bukan karena memiliki lapanga-lapangan migas, tetapi karena Balikpapan adalah pusat kegiatan industri migas dan layanan pendukung. Kalimantan Timur memiliki cadangan gas sangat besar yaitu 28% dari cadang gas nasional atau setara dengan delapan milyar barel minyak, ditambah dengan cadangan minyak sekeitar 1,3 milyar barel. Walaupun gas yang dihasilkan di Kalimantan Timur tidak diolah di Balikpapan, tapi diolah di Bontang, namun peran Balikpapan sebagai pintu gerbang Kalimantan Timur, menjadikan Balikpapan tetap berperan penting dalam layanan penunjang sektor industri dan perdagangan di Kalimantan Timur.
Kalimantan Timur, pada kwartal pertama (Maret) tahun 2005, tiga industri migas -Unocal, Total, dan Vico - memproduksi minyak lebih kurang 135 ribu barel perhari (Lihat Gambar 3) atau sekitar 13% dari produksi minyak nasional, dan memprodukksi gas lebih kurang 3.804 MMSCF (juta standard kaki kubik)/ hari(Lihat Gambar 4) atau 49% dari produksi gas nasional.
Produksi gas dimasa akan datang dari Kalimantan Timur akan lebih meningkat lagi, sehubungan dengan rencana Unocal, yang sekarang diakuisisi oleh Chevron-Texaco, untuk memproduksi gas dari pengembangan lapangan gas dilaut dalam Selat Makassar. Sekarang Unocal memasok lebih kurang 7% dari jumalah gas yang diolah LGN Bontang. Pada tahun 2012, Unocal merencanakan memasok 30% dari seluruh kebutuhan LNG Bontang. Sedang Total Indonesie dalam sepuluh tahun kedepan diperkirakan memproduksi gas dengan jumlah yang tidak jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Oleh sebab itu Kalimantan Timur, maka dalam dua-puluh tahun kedepan posisi Balikpapan terus akan memaikan peran penting dalam kelangsungan industri migas di Kalimantanan Timur
Kilang Balikpapan: Indonesia memililki tujuh kilang dengan kapasitas terpasang (installed capacity) total sebesar 1,057 juta barel perhari. Kapasitas kilang terbesar adalah kilang Cilacap di Jawa Tengah yang mempunyai kapasitas 348 ribu barel perhari, kilang Balikpapan di Kalimantan Timur adalah 260 ribu barel perhari, dan kilang Balongan di Jawa adalah 125 ribu barel perhari.
Kilang minyak Balikpapan dirancang hanya mengolah minyak impor, tidak untuk mengolah minyak yang berasal dari lapangan minyak yang ada sekitar Balikpapan. Oleh sebap itu kegiatan kilang Balikpapan tidak secara langsung terkait dengan tingkat produksi migas dalam negeri. Sekalipun bahan baku kilang Balikpapan tidak tergantung pasokan minyak dari lapangan minyak yang ada di Kalimantan Timur, namun Kilang Balikpapan membutuhkan pasokan gas dari lapangan migas sekitar Balikpapan untuk memasak minyak mentah import.
Peran Balikpapan sebagai pusat distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk kawasan Indonesia Timur (Lihat Gambar 5) makin penting. Alur pelayaran tanker minyak keluar dan masuk teluk Balikpapan akan tetap sibuk. Arus barang dan jasa untuk menunjang aktifias kilang dapat menajadi salah satu penggerak ekonomi Balikpapan.
Dua fakta penting diatas yaitu potensi migas di Kalimantan Timur, dan keberadaan kilang Balikpapan yang juga pusat distribusi BBM untuk Indoneisa Timur, dan ditambah cadangan batubara yang sebagian aktifitasnya ditunjang dari Balikpapan masih menjadi faktor penting bagi ekonomi Balikpapan
Penutup
Kelangkaan energi didunia membuat harga pasar migas dan batubaru membumbung tinggi. Kenaikan harga minyak diperkirakan bisa mencapai seratus dolar per barel. Harga energi yang tinggi akan berdampak langsung pada kemampuan pemerintah dalam penyediaan energi listrik yang memadai untuk masyarakat. Cadangan sumber daya energy yang besar di Kalimatan Timur tidak ada jaminan kemudahan bagi Kalimantan Timur untuk mendapatkan pasok minyak atau gas untuk menghasilkan tenaga listrik. Inilah keadaan paradoks yang dihadapai oleh Kalimantan Timur. Untuk memposisikan Kalimantan Timur pada posisi ekonomi yang baik dimasa akan datang maka Pemerintah Propinsi hendaknya melakukan dua hal berikut: (a) Pemerintah Propinsi perlu mengkaji lebih dalam tentang dampak harga migas yang tinggi terhadap perekonomian Kalimantan Timur, dan (b) Pemerintah Propinsi perlu merumuskan Kebijakan Energi Daerah (Regional Energy Policy)
Oleh: Ir. Suta Vijaya.
Intisari
Kalimantan Timur kaya akan sumber migas. Jumlah cadang minyak (terbukti dan potensial) kira-kira 13% dan cadangan gas kira 28% dari cadangan nasional, Sedangkan cadangan batubara kira 34% dari cadangan nasional. Disisi lain, saat ini Indonesia sudah tidak lagi tergolong negara pengekspor minyak, tapi sudah menjadi pengimport minyak (net importer country) sejak tahun 2004. Bagaimana peran kota Balikpapan pada masa datang? Memang pendapatan kota Balikpapan tidak secara langsung diperoleh dari sektor migas, namun sebagian besar pusat kegiatan industri migas berada di Balilkpapan. Untuk memahami dua pertanyaan diatas, marilah kita mulai dengan mempelajari kondisi neraca minyak dan gas nasional saat ini, potensi cadangan migas Kalimantan Timur, dan menafsirkan peran Balikpapan dalam industri migas.
Ketersediaan Migas nasional.
Pada tahun 1999, Indonesia meduduki peringkat ke tujuhbelas dunia sebagai negara pengekspor minyak atau kira-kira 2,0 persen dari produksi minyak dunia. Cadangan total minyak nasional kira-kira 9,8 milyar barrel (termasuk 5,3 milyar barel cadangan terbukti). Sejak tahun 1997, produksi Indonesia sebesar 1,58 juta barel perhari, terus menurun menjadai 1,56 juta barel perhari pada tahun 1998, menjadi 1,50 juta barel perhari pada tahun 1999, menjadi 1,3 juta barel perhari pada tahun 2002. Angka penurunan berlanjut terus menjadi 1,146 juta barel perhari pada tahun 2003. Kemudian tahun 2004, kemampuan produksi minyak Indonesia turun lagi menjadi kurang dari satu juta barrel perhari (Lihat Gambar 1).
Dunia industri minyak juga berhadapan dengan situasi paradoks. Pada saat cadangan yang ada terus berkurang, makin sulit menemukan sumber minyak baru, resiko finansial dan teknis semakin tinggi, harga minyak dunia berfluktuasi, pada saat yang sama Industri minyak harus juga menghasilkan profit. Sementara itu kondisi investasi dan kepastian hukum belum sepenuhnya menunjang industri migas untuk tumbuh dengan sehat agar terus melakukan eksplorasi dan pengembangan lapangan minyak baru. Bila penurunan produksi minyak ini terus berlanjut, maka Indonesia yang sekarang sudah menjadi “net importer country”, akan terus menjadi ”net importer country” dimasa-masa akan datang bila tidak ada penemuan-penemuan baru. Situasi ketersediaan energy minyak dimasa akan datang tentu sangat mempengaruhi kondisi ekonomi nasional maupun daerah, terutama di Kalimantan Timur yang banyak mengandalkan pendapatan dari sektor migas. Langkah strategis jangka panjang untuk menjamin ketersediaan energi perlu mendapatkan perhatian serius. Beberapa sumber energi yang tersedia dikawasan Kalimantan Timur yang belum dimanfaatkan secara optimal adalah gas bumi, batu bara, tenaga air, dan tenaga surya. Kalimantan Timur memiliki cadangan batubara sekitar 13,128 Miliar Metrik Ton atau 34% dari cadangan batubara nasional (Lihat Tabel 2).
Indonesia memiliki cadangan gas alam terbukti (proven natural gas reserve) sebesar 92.5 triliun stadar kaki kubik, dan cadangan potensial sebesar 68.5 triliun stadar kaki kubik. Dengan demikian cadangan total adalah 158.3 triliun kaki kubik (Lihat Tabel 3) atau setara dengan 27.0 miliar barel minyak. Ini berarti cadangan gas Indonesia setara dengan tiga kali cadangan minyak nasional yang mampu memasok kebutuhan energi Indonesia sampai dengan 50 tahun dengan asumsi tingkat kebutuhan energi seperti sekarang ini.
cadangan MIGAS kALIMANTAN TIMUR
Pada tahun 2002, Kalimantan Timur memiliki cadangan (cadangan terbukti dan potensial) minyak sekitar 1,3 miliyar barel atau 13% dari cadangan minyak nasional yang besarnya 9,7 milyar barel, and memiliki cadangan gas total sebesar 47.8 TCF (Trillion Cubic Feet - triliun stadar kaki kubik) atau setara dengan delapan miliyar barel minyak, atau hampir setara dengan cadangan minyak nasional. Cadangan gas Kalimantan timur yang besarnya sekeitar 28 % dari cadangan nasional mempunyai arti penting dalam perekomomian nasional dan daerah dimasa datang.
Pada tahun 2004, Kalimantan Timur memperolah dana perimbangan paling besar dari empat-belas daerah penghasil migas lainnya yaitu sebesar Rp. 3,101 triliun (Lihat Gambar 2).
Peran Balikpapan dalam Industri migas
Potensi migas: Sekarang, Indonesia sudah tergolong sebagai negara pengimpor minyak (net importer country). Namun demikian, Balikpapan akan tetap memainkan peran penting dalam industri migas, bukan karena memiliki lapanga-lapangan migas, tetapi karena Balikpapan adalah pusat kegiatan industri migas dan layanan pendukung. Kalimantan Timur memiliki cadangan gas sangat besar yaitu 28% dari cadang gas nasional atau setara dengan delapan milyar barel minyak, ditambah dengan cadangan minyak sekeitar 1,3 milyar barel. Walaupun gas yang dihasilkan di Kalimantan Timur tidak diolah di Balikpapan, tapi diolah di Bontang, namun peran Balikpapan sebagai pintu gerbang Kalimantan Timur, menjadikan Balikpapan tetap berperan penting dalam layanan penunjang sektor industri dan perdagangan di Kalimantan Timur.
Kalimantan Timur, pada kwartal pertama (Maret) tahun 2005, tiga industri migas -Unocal, Total, dan Vico - memproduksi minyak lebih kurang 135 ribu barel perhari (Lihat Gambar 3) atau sekitar 13% dari produksi minyak nasional, dan memprodukksi gas lebih kurang 3.804 MMSCF (juta standard kaki kubik)/ hari(Lihat Gambar 4) atau 49% dari produksi gas nasional.
Produksi gas dimasa akan datang dari Kalimantan Timur akan lebih meningkat lagi, sehubungan dengan rencana Unocal, yang sekarang diakuisisi oleh Chevron-Texaco, untuk memproduksi gas dari pengembangan lapangan gas dilaut dalam Selat Makassar. Sekarang Unocal memasok lebih kurang 7% dari jumalah gas yang diolah LGN Bontang. Pada tahun 2012, Unocal merencanakan memasok 30% dari seluruh kebutuhan LNG Bontang. Sedang Total Indonesie dalam sepuluh tahun kedepan diperkirakan memproduksi gas dengan jumlah yang tidak jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Oleh sebab itu Kalimantan Timur, maka dalam dua-puluh tahun kedepan posisi Balikpapan terus akan memaikan peran penting dalam kelangsungan industri migas di Kalimantanan Timur
Kilang Balikpapan: Indonesia memililki tujuh kilang dengan kapasitas terpasang (installed capacity) total sebesar 1,057 juta barel perhari. Kapasitas kilang terbesar adalah kilang Cilacap di Jawa Tengah yang mempunyai kapasitas 348 ribu barel perhari, kilang Balikpapan di Kalimantan Timur adalah 260 ribu barel perhari, dan kilang Balongan di Jawa adalah 125 ribu barel perhari.
Kilang minyak Balikpapan dirancang hanya mengolah minyak impor, tidak untuk mengolah minyak yang berasal dari lapangan minyak yang ada sekitar Balikpapan. Oleh sebap itu kegiatan kilang Balikpapan tidak secara langsung terkait dengan tingkat produksi migas dalam negeri. Sekalipun bahan baku kilang Balikpapan tidak tergantung pasokan minyak dari lapangan minyak yang ada di Kalimantan Timur, namun Kilang Balikpapan membutuhkan pasokan gas dari lapangan migas sekitar Balikpapan untuk memasak minyak mentah import.
Peran Balikpapan sebagai pusat distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk kawasan Indonesia Timur (Lihat Gambar 5) makin penting. Alur pelayaran tanker minyak keluar dan masuk teluk Balikpapan akan tetap sibuk. Arus barang dan jasa untuk menunjang aktifias kilang dapat menajadi salah satu penggerak ekonomi Balikpapan.
Dua fakta penting diatas yaitu potensi migas di Kalimantan Timur, dan keberadaan kilang Balikpapan yang juga pusat distribusi BBM untuk Indoneisa Timur, dan ditambah cadangan batubara yang sebagian aktifitasnya ditunjang dari Balikpapan masih menjadi faktor penting bagi ekonomi Balikpapan
Penutup
Kelangkaan energi didunia membuat harga pasar migas dan batubaru membumbung tinggi. Kenaikan harga minyak diperkirakan bisa mencapai seratus dolar per barel. Harga energi yang tinggi akan berdampak langsung pada kemampuan pemerintah dalam penyediaan energi listrik yang memadai untuk masyarakat. Cadangan sumber daya energy yang besar di Kalimatan Timur tidak ada jaminan kemudahan bagi Kalimantan Timur untuk mendapatkan pasok minyak atau gas untuk menghasilkan tenaga listrik. Inilah keadaan paradoks yang dihadapai oleh Kalimantan Timur. Untuk memposisikan Kalimantan Timur pada posisi ekonomi yang baik dimasa akan datang maka Pemerintah Propinsi hendaknya melakukan dua hal berikut: (a) Pemerintah Propinsi perlu mengkaji lebih dalam tentang dampak harga migas yang tinggi terhadap perekonomian Kalimantan Timur, dan (b) Pemerintah Propinsi perlu merumuskan Kebijakan Energi Daerah (Regional Energy Policy)
2 comments:
Bagus tulisan pian ini k' ... kawa dijadikan acuan berfikir untuk mengembangkan daerah (baca: Kaltim) ... BRAVO !!!
(by Frisko Hakim)
Posting Komentar