Social Icons

Pages

Sabtu, 18 Agustus 2007

Potensi Gempa dan Tsunami di Pesisir Kalimantan Timur

Ir. Suta Vijaya
Ikatan Ahli Geologi Indonesia – Kaltim.

Apakah mungkin tsunami terjadi dan menimpa pesisir Kaltim? Masyarakat Kaltim terutama yang berada di pesisir pantai sering bertanya-tanya setelah serangkaian peristiwa gempa yang diikuti oleh gelombang pasang atau tsunami yang melanda Aceh, Nias, dan baru-baru ini di terjadi di kawasan pantai selatan Jawa Barat.

Sekalipun beberapa ahli geologi dan geofisika berpendapat, bahwa Kaltim aman dari gempa dan tsunami. Alasan ini kemudian didukung oleh penjelasan yang bersifat teoritis. Apa memang demikian?

Saya berbeda pendapat dengan pendapat diatas. Justru Selat Makassar rawan akan tsunami. Sejak tahun 1900, tidak kurang delapan belas tsunami terjadi diwilayah Sulawesi, enam diantaranya terjadi di Selat Makassar. Tidak ada catatan bahwa imbas tsunami sampai ke pesisir Kaltim. Tetapi dari simulasi komputer dapat diketahui dampak tsunami di pesisir Kaltim memang ada, namun kecil. Sehingga gejalanya seperi kejadian pasang surut biasa. Sekecil apapun dampak tsunami, kita tetap harus waspada.
Note: Untuk referensi lanjutan, silahkan baca makalah yang ditulis oleh: G. S. PRASETYA,W. P. DE LANGE and T. R. HEALY Coastal Marine Group, Department of Earth Science, University of Waikato, Private Bag 3105,Hamilton, New Zealand

Mekanisme Gempa di Selat Makassar.
Mekanisme gempa yang terjadi di Aceh, Pulau Nias, Padang, Bantul-Yogyakarta, dan Pangandaran adalah akibat benturan kerak samudra Indo-Australia dengan kerak benua Euro-Asia.

Gempa yang terjadi di Selat Makassar pada umumnya akibat pergerakan mendatar antar kerak benua. Contohnya Patahan Palo-Koro di wilayah utara Selat Makassar, dan Patahan Pastenoster atau Patahan Adang di selatan Selat Makassar. Patahan dengan gerakan mendatar kecil kemungkinannya menyebabkan tsunami. Namun, bila patahan mendatar yang disertai gerak relatif turun/ naik atau gempa yang terjadi lalu menyebabkan longsoran tebing laut yang curam (shelf edge), hal inilah yang dapat menimbulkan tsunami. Disebelah timur maupun barat Selat Makassar, tebing lautnya sangat curam. Kedalaman laut berubah dari 100 meter dengan cepat berubah menjadi 1000 meter.
Gambar 01: Peta tektonik Kalimantan-Sulawesi
Hampir seluruh daerah di Indonesia pernah mengalami gempa. Namun, ada daerah-derah yang lebih sering mengalami gempa, dan yang hanya sesekali itupun gempa skala kecil. Pada gambar 2 terlihat sekali bahwa pusat gempa di Indonesia terletak didaerah Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Halmahera, dan Papua. Sedang Pulau Kalimantan frekwensi gempa sangat jarang, dan kalau pun terjadi kekuatanya kecil. Tetapi ingat! Longsoran dasar laut perairan Kalimantan bisa terjadi akibat gempa yang berada di Sulawesi. Longsoran dasar laut inilah yang bisa menimbulkan tsunami. Kita harus terus waspada, dan jangan menunggu tsunami terjadi baru percaya.

Gambar 02: Rekaman getaran gempa di Indonesia antara tahun1990 - 2000
menjorok kearah laut. Akumulasi air yang berlebiha tidak bertahan lama, dan segera menyebar menjahui episentrum gempa. Gelombang yang dihasilkan akan semakin besar ketika makin mendekat kedaerah pantai

Tanda Tsunami
Bila kita merasakan adanya getaran gempa bumi, dan air ditepi pantai mendadak surut, bergegaslah meningglkan kawasan pantai untuk menyelamatkan diri. Selain air yang mendadak surut, tanda-tanda lain dapat berasal dari satwayang menunjukan prilaku yang tidak biasa. Misal: ular-ular yang dalam waktu bersamaan berpindah dari tanah kepepohonan, demikian juga unggas yang berterbangan mencari tempat hinggap dipohon-pohon.

Tanggap Darurat
Setiap kali ada bencana termasuk bencana gempa dan tsunami yang memakan banyak korban, setiap kali pula kita berharap agar peristiwa yang memilukan hati ini adalah yang terakhir kali. Semua orang tahu, bahwa persiapan menghadapi bencana dapat mengurangi resiko. Tapi, setelah bencana berlalu untuk beberapa saat, kita cendrung lupa. Kalau toh ada diskusi tentang tanggap darurat, sering bicara soal aturan, hukum, dan undang-undang.

Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) yang berpangkalan di Pantai Ewa Hawaii bertugas memberi peringatan kepada hampir seluruh negara terutam negera-negara yang berada dikawasan Pasific, termasuk Indoneisa.Banyak pula kalangan mengeluhkan sistem peringatan dini (early warning). Sebenarnya pokok persoalan bukanlah peringatan dini, tetapi peringatan dini tidak bisa disampaikan dengan cepat dan akurat kepada pihak-pihak yang berkepentingan, terutama masyarakat yang kemungkinan terkenda dampak bencana. Contohnya, tsunami yang menimpa kawasan pantai selatan Jawa Barat, lima belas menit sebelum gelombang tsunami menghantam kawasan pesisir, Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) telah mengeluarkan peringatan. Tapi apa yang terjadi, masih juga ratusan nyawa tak terselamatkan. Kalau kita mau jujur, bahwa persiapan tanggap darurat belum mengalami perkembangan yang memadai. Alat peringatan dini seperti seismomter dan alat-alat lainnya memang dibutuhkan dalam mendeteksi gempa, tetapi yang jauh lebih penting adalah: serine tanda bahaya, pendidikan kepada masyarat, latihan tanggap darurat yang semuanya tidak banyak membutuhkan biaya besar, dan dapat dilakukan segera. Jangan terlalu mengandalakan intrument yang canggih, sementara instgrument belum ada, bahaya masih terus mengancam. Sudah waktunya kita mempersiapkan diri dengan apa yang sedang kita miliki sekarang.
Tentau kita kali ini tentu berharap, sekalipun ada bencana, masyarakat dapat selamat dari bencana.

Lewat tulisan ini, penulis ingin menghimbau terutama pada masyarakat pesisir Kalimantan Timur dan pesisr barat Sulawesi, agar tidak perlu cemas terhadap ancaman bencana tsunami, tapi tetap harus waspada. Sebelum ada petunjuk baku tentang bagaimana bertindak bila ada gempa. Berikut ada beberapa langkah sederhana yang disingkat ABC yang artinya:


Ketika ada gempa, lakukan langkah-langkah berikut:
A: Aktifkan tanda BAHAYA. Masyarakt pesisir dapat membuat kesepakatan tentang tanda-tanda bahaya, dan siapa yang berhak memberikan tanda bahaya. Ingat! Bila anda menunggu sampai anda melihat gelombang pasang datang mendekati pantai, anda sesungguh sudah terlambat untuk menghindar, oleh sebab itu setelah mendengar peringatan bahaya lakukan langkah berikut:

B: Bawa (ajak), semua anggota keluarga berkumpul ditempat yang telah ditentukan (assembly area). Bawa perlengkapan seadanya. Setelah yakin tidak ada anggota keluarga tertinggal, segera:

C: Cepat menghindar ketempat yang lebih tinggi sesuai arahan pimpinan regu. Masyarakat dapat berunding dan menyepakati daerah mana yang dianggap aman bila untuk menghindar dari gelombang pasang. Tetaplah berada ditempat menghindar sementara sampai keadaan aman kembali.



Ketika gempa selesai, lakukan langkah-langkah berikut:

A: Aktifkan tanda AMAN

B: Balik kerumah masing-masing, dan periksa kelengkapan anggota keluarga masing-masing

C: Canangkan terus kewaspadaan. Walaupun gempa yang terjadi tidak menimbulkan tsunami, kemudian jangan beranggapan kalau terjadi gempa kemudian lalu mengabaikannya. Tirulah kebiasaan masyarakat pulau Siberu yang selamat dari bencana tsunami beberapa tahun lalu. Mereka selalu cepat menghindar ketempat-tempat yang lebih tinggi bila terjadi gempa. Hasilnya, masyarakat setempat dapat terhindar dari bencana tsunami. Ingat ABC.

Untuk mengurangi dampak destruktif tsunami, maka perlu tataruang kawasan pesisir yang juga mempertimbangan berbagai aspek seperti aspek kependudukan, ekonomi, sosial, lingkungan, dan kemungkinan bencana alam seperti tsunami.
Semoga bermafaat bagi masyarakat luas.

1 comments:

HAKIMost mengatakan...

Dulu ulun pernah baca ada potensi patahan lempeng dari Selat Sulawesi hingga ke Lati, Berau ... tulisan ini menambah wawasan ulun ttg potensi gempa n' tsunami di Kaltim ... BRAVO !!! (by Frisko Hakim)

 

Sample text

Sample Text

Sample Text